Wednesday, July 3, 2013

Presentation with impact

Lebih dari 90 persen presentasi disajikan dengan buruk, karena kurangnya persiapan materi presentasi secara detail, ungkap penulis buku ‘Presentation with Impact’ Teddy J. Sitepu dalam workshop presentasi baru-baru ini. 

Apa sih presentasi? Penyajian. Bisa dalam hal ide, makanan, cara berpakaian, dll. 

Presentation is the act of introducing via speech  and various additional means, new information to an audience.  (wikipedia). 

Karena 50 persen orang (audience) lebih mudah menangkap secara audio, dan 50 persen lagi, secara visual, maka presentasi yang mencakup keduanya (audio-visual) dengan menggunakan slide Powerpoint sangat disarankan untuk membantu menyukseskan penyampaian ide kepada orang lain.

“Memberi presentasi itu similar to giving a present, jadi harus bisa menghibur dan mencerahkan,” kata Teddy. 

“Presentasi yang baik menunjukkan bagaimana kita berpikir dan apa yang kita pikirkan, yang idealnya harus: Runut. Gamblang. Jelas. Sistematis.” 

“Siapkan presentasi tahap demi tahap. Rancang menit demi menitnya.”

Manusia lebih mudah memahami dengan cerita. Rumus dicernakan dalam bahasa cerita. Karena otak kita tidak bekerja secara mekanis, namun secara organism, jadi lebih mudah menyerap cerita.

Mengapa sebuah presentasi bisa menjadi buruk? Pertama, karena tanpa konsep. Tidak jelas tujuannya untuk apa? apakah melaporkan, memberi argumentasi, atau menghibur.  Kedua, karena terlalu banyak muatan dalam slide, ornamen dan warna. Perlu diingat, bahwa design itu untuk perkuat makna bukan untuk dekorasi. Ketiga, terlalu banyak data. Keempat, karena presentasi dibuat tanpa jiwa alias asal jadi.
Komponen presentasi yang efektif: 1. Yang paling penting dalam presentasi adalah ‘Yourself’. (the presenter). 2. Adanya Interaksi: eye contact dengan audience. 3. Apakah maknanya sampai ke audience?  4. Media yang dipakai mendukung.

Beberapa sinyal dari audience yang menandakan, anda membuat presentasi yang buruk: penonton bingung, sibuk sendiri dan mengantuk.

Apa impact yang diharapkan dari sebuah presentasi?
Impressive. Mampu menarik perhatian audiens di menit pertama
Powerful. Presentasi harus memiliki energi positif. Harus bisa membangun atensi penonton
Actual. Menunjukkan pengetahuan terkini dan relevan dengan audience.
Trustworthy. Berikan data, pendapat, kesimpulan, usulan dan saran.

Creating an island of integrity among others

Pengamat sosial politik Imam B Prasodjo menyatakan bahwa meskipun masyarakat Indonesia dewasa ini mengalami 'deficit of trust' dalam segala level, setiap individu pemimpin harus senantiasa berusaha menciptakan island of integrity mulai dari hal-hal sederhana. 

Problem saat ini yang terjadi di republik kita adalah adanya ketidakjujuran sistemik, seperti mencontek, main anggaran, dan segala bentuk korupsi berjamaah lainnya.  

“Apa yang kita harus lakukan we have to develop an island of integrity. Ayo kita bangun barisan orang-orang yang beintegritas, saling mengingatkan. Jadikan mereka bagian dari hidup anda. Mari kita bangun island of integrity mulai dari hal kecil di setiap daerah untuk bangun indonesia yang lebih baik,” ungkap Imam dalam sesi diskusi bertajuk  Membangun Kapasitas dan Karakter Pemimpin Bangsa di Masa Depan dalam program kepemimpinan calon penerima beasiswa LPDP baru-baru ini. 

“Sudah waktunya generasi muda mengambil alih kepemimpinan Indonesia yang sekarang didominasi oleh yang generasi lama. 

Trust deficit merupakan sebuah situasi yang sedang dialami negeri ini. Siapa itu pejabat? Tidak semua pemimpin itu jadi pejabat. Tidak semua pejabat itu pemimpin. Para pejabat sekarang ini mengalami devaluasi kepercayaan. Menteri, gubernur, presiden, ini orang ngomong bisa dipercaya tidak?
Apa syaratnya untuk dapat dipercaya oleh masyarakat/publik? Ternyata benang merahnya untuk bisa dipercaya, adalah memiliki karakter dan kapasitas. Keduanya, harus berdampingan ada. 

Kenapa mutlak harus ada? Karena karakter adalah yang menentukan sebuah tindakan. Sedangkan kapasitas adalah skills yang membuat orang mampu membuat tindakan. 
Misalnya, menemukan dompet dengan isi uang. Kapasitas adalah kemauan untuk menghitung berapa nilai uang yang ada di dalam dompet yang ditemukan.

Yang mengkuatirkan adalah bangsa ini terlalu mengutamakan keterampilan, kapasitas dan pengetahuan, tapi bukan karakter.  Kepandaian otak harus digabung dengan kepandaian hati.
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, begitulah yang dinyatakan dalam syair Indonesia Raya. 

Beberapa konsep kunci: Pemimpin, capacity building, character building, bangsa, masa mendatang.
Pemimpin itu adalah seseorang yang mampu menggerakkan orang lain, melakukan kegiatan terencana, dengan visi perubahan nyata, ke arah kehidupan bersama, tanpa cara-cara pemaksaan. Tidak semua pejabat punya visi ke depan, planning terencana yang menuju ke arah kebaikan bersama.
“Untuk memulai hal ini, paling tidak, anda bisa memimpin diri sendiri dahulu.”
Kepemimpinan mengacu pada upaya menggerakan orang lain untuk ikut serta melakukan kegiatan bersama sesuai dengan tujuan dan cara yang memiliki kegunaan nyata.
“Anyone can steer the ship but it takes a leader to chart (memetakan) the course.”
Salah satu syarat penting kepemimpinan: harus visioner.  Leaders berbeda dari managers, dan administrators.  Jangan menjadi pemimpin yang utopis tapi realistis. 

Yang terjadi di indonesian adalah kebanyakan orang ramai-ramai rebutan jabatan. Pemimpin genuine, punya jabatan atau tidak, dia akan tetap punya magnet, di-respect, dan setiap ucapannya akan didengar, karena selalu bermakna. 

Pemimpin palsu banyak ngomong, mungkin statementnya bagus, tapi palsu. Makanya dari itu “The right message harus keluar dari the good messenger.
Sebagai pemimpin, antara yang anda lakukan dengan yg anda katakan, jangan terlalu jauh menyimpang. Menjadi pemimpin bangsa, be consistent dalam track record anda. 

Indonesia as a multicultural nation state. More than 700 ethic groups. Etnis, race, religion, class.
Kita ini bukan seperti Jepang yang masyarakatnya relatif homogen. Ataupun Korea. Bahkan Spore pun dibanding Indonesia bukan apa-apa dalam hal keragaman. 

Modern nation state, yang pemimpinnya dipilih secara demokratis bukan turun temurun. Indonesia itu selalu dalam proses menjadi. Jangan bermain dengan rasa keindonesiaan. Ethnonationalism itu berpotensi menumbuhkan separatisme. 

Rasa kebangsaaan? Tanpa ini, anda akan menjadi pemimpin lokal yang hanya ingin membuat negara baru. Menyatukan semua ini tidak dengan paksa. Kalo negara ini tidak memperlakukan sebaik-baiknya warga negara, lama kelamaan akan timbul pertanyaan: Ini negara ada gak sih? Kalo pimpinan yang paling atas tidak memahami adanya keragaman ini. Mereka akan kembali hanya pada nasionalisme lokal.
Fenomena Jokowi, kenapa orang begitu cinta dengan pribadi ini? Karena sosoknya mengundang public trust. Berempatilah, membayangkan when you're in their shoes. Empathy is not the same with simpathy. 

Politik pencitraan. Setiap kali kita mau melakukan, coba diintrospeksi dulu, Kalo anda orangnya ikhlas tujuannya jelas, jaim itu tidak mungkin ada. Belajar berempati pada orang yang paling termajinalkan. Dengarkan mereka. Enjoy berdialog dengan mereka. Berbahagialah bahwa anda bisa melakukan perubahan untuk even satu orang saja. Keluar dari ruangan ini, pilih satu saja, hal kecil yg bisa anda lakukan dalam waktu dekat, liat bagaimana efeknya pada orang yang tersentuh. Kalo anda jadi pimpinan partai tidak perlu pakai iklan, tapi kalo orang lihat track record, itu sudah menjadi iklan tersendiri. Niatkan hati try todo your best. Jangan karitatif. Jangan snapshot.  Misalnya, datangi dan lakukan sesuatu yang merubah hidup seseorang, bukan ujug-ujug kasih duit. 

Jadi, pertanyaan kunci:
Kapasitas apa yang dibutuhkan untuk pemimpin mendatang?
Karakter seperti apa?
Apa tantangan global?
Apa tantangan nasional?
Bangsa ini harus diupdate terus, in terms of human resources development dan organizational development. Institutional capacity building, two levels: Institutional capacity building and personal capacity building.

Tantangan saat ini: Makin tinggi tingkat pendidikan, makin rendah kemandirian, dan semangat kewirausahaan. Jangan kasih kail, tapi tumbuhkan industrynya.  Melatih manajemen, packaging. Kita ini kekurangan social capital. Jika kita berhimpun untuk sebuah misi dan visi kebangsaan. 

Utamakan civic nationalism, not regional nationalism or ethnic nationalism yang bisa memicu separatisme. Be proud with your race, but interact in harmony with others.

Monday, July 1, 2013

Building intercultural competence

Motivator intercultural learning Irid Farida Agoes dan mantan  ketua PPI Australia Della YA Temenggung mengungkapkan pentingnya membangun intercultural competence untuk menyukseskan studi pendidikan tinggi di luar negeri.

Irid and Della berbicara dalam sharing session program kepemimpinan calon penerima beasiswa LPDP pada hari Jumat.

Ada tiga kriteria kesuksesan proses pembelajaran antar budaya dalam diri seorang pelajar di luar negeri. Pertama, jika saya merasa betah, nyaman dan happy menjalani studi saya di negara tsb. Kedua, jika orang-orang di sekitar saya menyatakan saya cocok di sini. Dan, ketiga, jika saya mampu belajar dengan efektif di negara tsb.

Sayangnya, Irid mengakui bahwa hingga saat ini, kebanyakan orang Indonesia belum menyadari pentingnya intercultural competence, seperti terlihat dalam berbagai konflik sosial, seperti tawuran pelajar, kerusuhan etnis dan agama yang terjadi di Indonesia.

Beberapa asumsi karakter positif budaya Barat seperti disiplin, independent, straight forward, punctuality, dll, diperbandingkan dengan karakter negatif budaya Indonesia (Timur) seperti jam karet, pemalu, minder, sungkan, bertele-tele, birokratis, dll.  Irid mengingatkan: “Jangan stereotyping. Tapi in general, asumsi-asumsi tsb ada benarnya juga.”

Mengutip Geert Hostede, budaya adalah collective programming of the mind that makes one group different from the other.  Karena budaya merupakan hasil programming of the mind, Irid menyarankan kita untuk ‘be less judgmental when seeing something different to our own culture’.

“Kalau ada perbedaan, caranya untuk bisa berjalan bersama, ya harus menerima apa adanya. Daripada menganggap budaya kita senderi paling hebat, berusahalah untuk mengerti, menghargai dan lebih selektif,” demikian tegas Irid, yang beralmamater di Universitas Indonesia dan State University of New York.
Irid juga menampilkan perbandingan antara collectivism, yang merupakan kecendurungan budaya Timur dengan individualism, yang menjadi kecenderungan budaya orang Barat.

Collectivism vs Individualism

Collectivism, diwarnai dengan ciri berikut ini: Sulit melepaskan diri dari ikatan kelompok, tidak nyaman kalau tidak berkelompok; selalu ingin menyenangkan orang lain; selalu ingin dalam kelompok sehingga sulit berinisiatif; selalu mencari persetujuan; percaya selalu ada yang akan menolong; jika frustasi akan menghilang; memilih kompromi dan menghindari konfrontasi; tidak terbuka dan diam.

Sementara, individualism dicirikan dengan, beberapa hal berikut ini: memerlukan privasi; menyenangkan diri sendiri adalah tanggung jawab masing-masing; berbeda itu baik; mandiri dalam mengambil keputusan; ingin menyelesaikan masalah secara terbuka; mementingkan hasil akhir; kalau bersalah mengaku; yang penting benar, caranya nomor dua; kemampuan memisahkan antara masalah pekerjaan dan pribadi.

Pada akhirnya, mengutip Richard Brislin, pendidikan antar-budaya mencakup tiga aspek , yakni perubahan kognitif, perubahan perasaan dan perubahan sikap.

“So, let's go home as a 150 percent Indonesians. Bawa pulang dari studi di luar negeri semua hal yang bagus saja,” kata Irid.

Sementara, Della, yang pernah menjabat sebagai ketua PPI Australia 2003-2004, menegaskan: “Belajar di luar negeri itu bukan hanya menuntut ilmu, but more a life journey.”

“Di sana kita belajar untuk lebih terbuka. To learn and unlearn. Melepaskan kebiasaan asal yang buruk, misalnya: jam karet versus punctuality, menulis dengan gaya bertele-tele versus straight forward etc.”

Berikut beberapa tips Della, yang saat ini bekerja di World Bank, agar seorang penerima beasiswa dapat menjalani studi di luar negeri dengan sukses:

“Energy follows attention. Yang perlu di-manage adalah pikiran dan energi anda, bukan waktu. “

“Melihat. Mengamati. Menjalani. Dan menikmati. Selalu ada kali pertama. Jangan takut, enjoy it, it’s ok to make mistake.

“Bangun komunikasi. Kenali supervisor anda, batch anda, dan bahkan landlord anda. Pengalaman melakukan riset, supervisor anda adalah orang yg paling dekat dengan anda di kampus. Bangun komunikasi sehingga tidak pernah kesepian.”

Sebenarnya menyelesaikan studi merupakan sebuah keniscayaan. Mahasiswa adalah masa dimana kita belajar. Kita menempa diri. Kalau kita belajar dengan benar, kita akan pulang sebagai pribadi yg siap berkiprah. Seraplah hal-hal yg positif di sana, bawa dan sebarkan kembali di indonesia.”