Motivator intercultural
learning Irid Farida Agoes dan mantan
ketua PPI Australia Della YA Temenggung mengungkapkan pentingnya
membangun intercultural competence untuk menyukseskan studi pendidikan tinggi
di luar negeri.
Irid and Della
berbicara dalam sharing session program kepemimpinan calon penerima beasiswa
LPDP pada hari Jumat.
Ada tiga kriteria
kesuksesan proses pembelajaran antar budaya dalam diri seorang pelajar di luar
negeri. Pertama, jika saya merasa betah, nyaman dan happy menjalani studi saya
di negara tsb. Kedua, jika orang-orang di sekitar saya menyatakan saya cocok di
sini. Dan, ketiga, jika saya mampu belajar dengan efektif di negara tsb.
Sayangnya, Irid mengakui bahwa hingga
saat ini, kebanyakan orang Indonesia belum menyadari pentingnya intercultural
competence, seperti terlihat dalam berbagai
konflik sosial, seperti tawuran pelajar, kerusuhan etnis dan agama yang terjadi
di Indonesia.
Beberapa asumsi
karakter positif budaya Barat seperti disiplin, independent, straight forward,
punctuality, dll, diperbandingkan dengan karakter negatif budaya Indonesia
(Timur) seperti jam karet, pemalu, minder, sungkan, bertele-tele, birokratis,
dll. Irid mengingatkan: “Jangan
stereotyping. Tapi in general, asumsi-asumsi tsb ada benarnya juga.”
Mengutip Geert Hostede, budaya adalah
collective programming of the mind that makes one group different from the
other. Karena budaya merupakan hasil
programming of the mind, Irid menyarankan kita untuk ‘be less judgmental when
seeing something different to our own culture’.
“Kalau ada perbedaan, caranya untuk bisa
berjalan bersama, ya harus menerima apa adanya. Daripada menganggap budaya kita
senderi paling hebat, berusahalah untuk mengerti, menghargai dan lebih selektif,” demikian tegas Irid, yang beralmamater di
Universitas Indonesia dan State University of New York.
Irid juga menampilkan
perbandingan antara collectivism, yang merupakan kecendurungan budaya Timur
dengan individualism, yang menjadi kecenderungan budaya orang Barat.
Collectivism vs Individualism
Collectivism, diwarnai dengan ciri
berikut ini: Sulit melepaskan diri dari ikatan kelompok, tidak nyaman kalau
tidak berkelompok; selalu ingin menyenangkan orang lain; selalu ingin dalam
kelompok sehingga sulit berinisiatif; selalu mencari persetujuan; percaya
selalu ada yang akan menolong; jika frustasi akan menghilang; memilih kompromi
dan menghindari konfrontasi; tidak terbuka dan diam.
Sementara, individualism dicirikan
dengan, beberapa hal berikut ini: memerlukan privasi; menyenangkan diri sendiri
adalah tanggung jawab masing-masing; berbeda itu baik; mandiri dalam mengambil
keputusan; ingin menyelesaikan masalah secara terbuka; mementingkan hasil
akhir; kalau bersalah mengaku; yang penting benar, caranya nomor dua; kemampuan
memisahkan antara masalah pekerjaan dan pribadi.
Pada akhirnya, mengutip Richard Brislin,
pendidikan antar-budaya mencakup tiga aspek , yakni perubahan kognitif, perubahan perasaan dan perubahan sikap.
“So, let's go home as a
150 percent Indonesians. Bawa pulang dari studi di luar negeri semua hal yang
bagus saja,” kata Irid.
Sementara, Della, yang
pernah menjabat sebagai ketua PPI Australia 2003-2004, menegaskan: “Belajar di
luar negeri itu bukan hanya menuntut ilmu, but more a life journey.”
“Di sana kita belajar
untuk lebih terbuka. To learn and unlearn. Melepaskan kebiasaan asal yang buruk,
misalnya: jam karet versus punctuality, menulis dengan gaya bertele-tele versus
straight forward etc.”
Berikut beberapa tips Della, yang saat ini
bekerja di World Bank, agar seorang penerima beasiswa dapat menjalani studi di
luar negeri dengan sukses:
“Energy follows attention. Yang perlu di-manage
adalah pikiran dan energi anda, bukan waktu. “
“Melihat.
Mengamati. Menjalani. Dan menikmati. Selalu ada kali pertama. Jangan takut,
enjoy it, it’s ok to make mistake.
“Bangun
komunikasi. Kenali supervisor anda, batch anda, dan bahkan landlord anda.
Pengalaman melakukan riset, supervisor anda adalah orang yg paling dekat dengan
anda di kampus. Bangun komunikasi sehingga tidak pernah kesepian.”
“Sebenarnya menyelesaikan studi merupakan sebuah keniscayaan. Mahasiswa
adalah masa dimana kita belajar. Kita menempa diri. Kalau kita belajar dengan
benar, kita akan pulang sebagai pribadi yg siap berkiprah. Seraplah hal-hal yg
positif di sana, bawa dan sebarkan kembali di indonesia.”
No comments:
Post a Comment