Monday, July 1, 2013

Building intercultural competence

Motivator intercultural learning Irid Farida Agoes dan mantan  ketua PPI Australia Della YA Temenggung mengungkapkan pentingnya membangun intercultural competence untuk menyukseskan studi pendidikan tinggi di luar negeri.

Irid and Della berbicara dalam sharing session program kepemimpinan calon penerima beasiswa LPDP pada hari Jumat.

Ada tiga kriteria kesuksesan proses pembelajaran antar budaya dalam diri seorang pelajar di luar negeri. Pertama, jika saya merasa betah, nyaman dan happy menjalani studi saya di negara tsb. Kedua, jika orang-orang di sekitar saya menyatakan saya cocok di sini. Dan, ketiga, jika saya mampu belajar dengan efektif di negara tsb.

Sayangnya, Irid mengakui bahwa hingga saat ini, kebanyakan orang Indonesia belum menyadari pentingnya intercultural competence, seperti terlihat dalam berbagai konflik sosial, seperti tawuran pelajar, kerusuhan etnis dan agama yang terjadi di Indonesia.

Beberapa asumsi karakter positif budaya Barat seperti disiplin, independent, straight forward, punctuality, dll, diperbandingkan dengan karakter negatif budaya Indonesia (Timur) seperti jam karet, pemalu, minder, sungkan, bertele-tele, birokratis, dll.  Irid mengingatkan: “Jangan stereotyping. Tapi in general, asumsi-asumsi tsb ada benarnya juga.”

Mengutip Geert Hostede, budaya adalah collective programming of the mind that makes one group different from the other.  Karena budaya merupakan hasil programming of the mind, Irid menyarankan kita untuk ‘be less judgmental when seeing something different to our own culture’.

“Kalau ada perbedaan, caranya untuk bisa berjalan bersama, ya harus menerima apa adanya. Daripada menganggap budaya kita senderi paling hebat, berusahalah untuk mengerti, menghargai dan lebih selektif,” demikian tegas Irid, yang beralmamater di Universitas Indonesia dan State University of New York.
Irid juga menampilkan perbandingan antara collectivism, yang merupakan kecendurungan budaya Timur dengan individualism, yang menjadi kecenderungan budaya orang Barat.

Collectivism vs Individualism

Collectivism, diwarnai dengan ciri berikut ini: Sulit melepaskan diri dari ikatan kelompok, tidak nyaman kalau tidak berkelompok; selalu ingin menyenangkan orang lain; selalu ingin dalam kelompok sehingga sulit berinisiatif; selalu mencari persetujuan; percaya selalu ada yang akan menolong; jika frustasi akan menghilang; memilih kompromi dan menghindari konfrontasi; tidak terbuka dan diam.

Sementara, individualism dicirikan dengan, beberapa hal berikut ini: memerlukan privasi; menyenangkan diri sendiri adalah tanggung jawab masing-masing; berbeda itu baik; mandiri dalam mengambil keputusan; ingin menyelesaikan masalah secara terbuka; mementingkan hasil akhir; kalau bersalah mengaku; yang penting benar, caranya nomor dua; kemampuan memisahkan antara masalah pekerjaan dan pribadi.

Pada akhirnya, mengutip Richard Brislin, pendidikan antar-budaya mencakup tiga aspek , yakni perubahan kognitif, perubahan perasaan dan perubahan sikap.

“So, let's go home as a 150 percent Indonesians. Bawa pulang dari studi di luar negeri semua hal yang bagus saja,” kata Irid.

Sementara, Della, yang pernah menjabat sebagai ketua PPI Australia 2003-2004, menegaskan: “Belajar di luar negeri itu bukan hanya menuntut ilmu, but more a life journey.”

“Di sana kita belajar untuk lebih terbuka. To learn and unlearn. Melepaskan kebiasaan asal yang buruk, misalnya: jam karet versus punctuality, menulis dengan gaya bertele-tele versus straight forward etc.”

Berikut beberapa tips Della, yang saat ini bekerja di World Bank, agar seorang penerima beasiswa dapat menjalani studi di luar negeri dengan sukses:

“Energy follows attention. Yang perlu di-manage adalah pikiran dan energi anda, bukan waktu. “

“Melihat. Mengamati. Menjalani. Dan menikmati. Selalu ada kali pertama. Jangan takut, enjoy it, it’s ok to make mistake.

“Bangun komunikasi. Kenali supervisor anda, batch anda, dan bahkan landlord anda. Pengalaman melakukan riset, supervisor anda adalah orang yg paling dekat dengan anda di kampus. Bangun komunikasi sehingga tidak pernah kesepian.”

Sebenarnya menyelesaikan studi merupakan sebuah keniscayaan. Mahasiswa adalah masa dimana kita belajar. Kita menempa diri. Kalau kita belajar dengan benar, kita akan pulang sebagai pribadi yg siap berkiprah. Seraplah hal-hal yg positif di sana, bawa dan sebarkan kembali di indonesia.”

No comments:

Post a Comment